30 Desember 2019

Waktunya Memberi

Selalu siap menerima, tapi sulit untuk memberi.
Ini bukan bicara mengenai uang atau harta benda. Lain daripada beri memberi dalam topik tersebut, saya justru sedang membicarakan mengenai memberi dalam hal ilmu.
Ya. Kita terbiasa "ready to receive" not "ready to give", karena barangkali sejak kecil sudah dibiasakan untuk menerima dan menerima saja. Mengeluarkannya pun bukan dalam konteks memberi, tapi dalam konteks ya.. menyelesaikan rangkaian dari proses pemberian tersebut. Sehingga ketika sampai di usia yang memaksa kita untuk memberi, kita bingung, belum siap. "Apa yang mau diberikan, aku kosong belum terisi. Ilmu mana yang mau diberikan, kan kemarin aku diberi untuk aku muntahkan kembali dalam lembar ujian akhir semester. Kemudian sudah, aku kosong kembali."

Maka barangkali, sebagaimana kita dipaksa untuk terus menerima, begitupula kita harus dipaksa untuk memberi. Memberi apapun, asal pilih yang baik-baik. Beri bungkus yang masih ada isinya dan pastikan itu enak. Bukan memberi bungkusnya saja kan, itu namanya sampah. 

20 November 2019

Dari Vital Menjadi Viral


Terkadang pening betul kepala ini melihat informasi yang berhambur tak karuan di media-media. Ini sudah macam anak SD yang jengah dengan pelajaran sekolah di siang bolong, lalu dikuasai kantuk tak tertahan, namun seketika terdengar bunyi bel nyaring ditelinga. Maka berhamburlah mereka menyerbu gerbang, ingin segera pulang, entah untuk makan atau main di lapangan. Begitulah kira-kira ilustrasinya. Sesak bejubel tak karuan informasi jaman sekarang. Semua orang bisa melaporkan, lalu kebohongan saling berkelindan dengan kenyataan, fakta pun terabaikan, pokok masalah pun kabur jadi samar-samar.

Kini untuk mendapatkan berita apa yang paling penting saja, kita harus susah payah dulu menemukan media atau portal online yang akurat, berimbang. Untuk betul-betul melihat isu apa yang kini sedang dan harus mendapat perhatian, kita harus perang dulu melewati ribuan lapisan hoax dan  berbagai informasi viral yang tak jarang nirfaedah. Jadi sekarang, apa yang viral segera naik ke permukaan, sedangkan yang vital bisa saja malah terabaikan.

Sebut saja beberapa waktu yang lalu CNN melakukan liputan khusus bersama tim peneliti ke puncak Jayawijaya di Papua. Mereka mengabadikan “salju terakhir” untuk sesuatu yang selama ini kita sebut-sebut sebagai “salju abadi”. Nyatanya, karena pemanasan global yang semakin tak terbendung, es di puncak Jayawijaya terus mencair dan diprediksi akan segera menghilang selamanya dalam beberapa waktu ke depan. Tanpa ada media yang mengabarkan informasi ini, jangan heran jika tiba-tiba ada anak bangsa yang dengan bangga di 50 tahun mendatang menyebut bahwa “Indonesia juga punya salju. Salju abadi bahkan, di puncak gunung di Papua”, padahal salju itu telah mencair, hilang, gone puluhan tahun yang lalu.

Tayangan eksklusif tentang salju terakhir di Jayawijaya itu sayangnya disiarkan oleh media asing yang membuka kantor di Indonesia, namun justru sepi dari perhatian media dalam negeri. Ke mana yang lainnya? Isu lingkungan memang kerap menjadi anak tiri di sini. Masyarakat kita lebih gemar dengan isu politik yang tiada usainya. Bahkan seorang teman saya pernah bilang, “Baru juga Pilpres 2019 digelar, media kita sudah sibuk membahas Pilpres 2024”. Ada benarnya. Lalu kapan isu yang lain kebagian tempat kalau yang bertengger di atas panggung: politik lagi politik lagi.

Berdamai dengan Diri Sendiri

Menaklukkan batin yang berkecamuk bukan ihwal mudah. Pertama-tama harus kendalikan nafsu, lalu pikiran, kata, dan perbuatan. Tahap demi tahapnya haram dilewati. Sebab batin adalah makhluk abstrak. Bersemayam di balik lapisan daging yang dibalut baju dan segala pernik. Sulit mengendalikannya. Tapi kita pasti bisa. Sebab itu dalam tubuh kita. Menyatu dengan darah dan udara dalam tubuh. Bagian dari kita. 

Abah dan Sebuah Nasihat Kehidupan

Kala masih kecil, aku pernah dengan menggebu2 berhambur ke arah Abahku.. dengan penuh antusias kuceritakan pada Abah bahwa ada seseorang yang sangat sangat rajin, ia membaca banyak buku, bahkan saking rajinnya.. ia tak pernah tak tidur dalam keadaan membawa buku. Itu artinya, dia membaca sepanjang waktu terjaganya, hingga kantuk tiba ia tetap membaca buku. 

Abah dengan tenang menjawab, "ngapain begitu itu... tidur ya tidur, ndak usah bawa buku. Sebelum tidur itu ya wudlu dulu, berdoa dulu, pakai selimut". 

Lalu aku hanya tertegun saat itu, menyadari bahwa cerita hebatku dimentahkan oleh jawaban Abah.

Kini aku sadar, benar juga jawaban Abah, lucu mengingat masa masa kecil. Anak kecil selalu penuh gairah, mudah terperangah. Nah.. jika kita sudah dewasa namun masih mudah silau dengan yang berkilau... mudah kagum pada apa yang tak umum... apa bedanya kita dengan masa kecil dulu? Hehe. 

15 November 2019

Sunset di Selat Sunda


Source: Dokumen pribadi penulis

Beberapa minggu yang lalu saya dan suami berkesempatan melakukan perjalanan ke pulau sebrang, melalui jalur darat. Dari kota Serang menuju ke Pelabuhan Merak, membutuhkan waktu cukup singkat, kurang lebih satu jam. Kami membeli tiket dengan biaya 15 ribu per orang untuk kapal laut kelas ekonomi.
Perjalanan menyeberang dari Merak ke Bakauheni tidak memakan waktu yang lama, kurang dari 3 jam saja. Kala perahu merapat di tepi daratan Lampung Selatan, mata kami seketika berbinar-binar dan ada gembira yang meletup-letup. Ini menjadi kali kedua bagi saya menyeberang antar pulau menggunakan kapal laut, sebelumnya saya pernah menyeberang dari Jawa ke Bali, pelabuhan Ketapang ke Gilimanuk.
Sangat indah. Tentu saja. Memandang lautan yang kehijauan dan langit yang biru, menyatu begitu padu. Diiringi burung-burung camar yang terbang di sepanjang pantai. Juga segarnya bakau yang berjajar dipinggir pulau pulau kecil. Hampir sempurna.
Tapi sungguh, tidak ada yang benar-benar sempurna. Sebab ini dunia bukan surga. Di balik keindahan pemandangan yang memanjakan mata sepanjang perjalanan, kami hampir lupa bahwa ada banyak pelajaran kehidupan yang berharga.  Kenyataannya, perjalanan Merak Bakauheni tak seindah deskripsi para turis atau pelancong dalam buku-buku travelingnya. Sebab ada peluh yang beradu dengan lelah dalam diri para sopir truk antar pulau itu. Setiap hari hidupnya berkutat pada aspal dan laut. Ia seolah tak bisa mengelak, sebab itu bukan pilihan. Ada pula khawatir dalam diri para penjaja pop mie dan rokok eceran di atas perahu. Ada ketakutan dalam diri para perantau yang hendak pulang ke kampung halamannya, sebab gagal mendapat pekerjaan impian. Tak lupa, ada juga rindu diam-diam menyergap hati para karyawan kantoran yang ngelaju tiap akhir minggu. Rindu bertemu keluarga, rindu memeluk orang tua, istri, anak, atau bahkan cucu.  
Semua beradu menjadi satu, di dalam perahu itu.  Dalam tatapan mata mereka, banyak kisah yang diam tak bersuara. Hanya berlinang-linang seperti kerling air laut, tak hendak ke mana-mana. Foto di atas adalah sekelumit keindahan dari perjalanan beberapa waktu lalu. Tak untuk ditafsirkan apa-apa. Tapi percayalah banyak getir yang tidak tertangkap kamera, tapi dirasakan tiap-tiap penumpang di dalamnya.

Pendidikan dan Lapangan Kerja

Source: https://tekno.tempo.co/
Melalui akun twitter @setkabgoid, Sekretariat Kabinet Republik Indonesia memperkenalkan nama-nama menteri baru di Kabinet Indonesia Maju dibawah kepemimpinan Jokowi-Ma'ruf. Pada poin ke 17, cuitan tersebut menyebut nama Nadiem Anwar Makarim sebagai Mendikbud. Mantan CEO Gojek ini digadang-gadang akan mampu  membuat terobosan signifikan dalam pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), yakni dengan cara menyiapkan SDM yang siap kerja. Bahkan disebut pula bahwa melalui tangan Nadiem, akan dapat tercipta kesinambungan atau link and match antara pendidikan dengan industri.
Cuitan yang disukai oleh ribuan pengguna twitter ini justru menimbulkan khawatir selain senyum kecil karena wajah baru yang kini mengisi pemerintahan. Pertanyaannya, tepatkah visi menyiapkan SDM siap kerja tersebut melalui kementerian pendidikan dan kebudayaan?
Kekhawatiran yang muncul kemudian adalah, jangan-jangan institusi pendidikan hanya digunakan sebagai mesin pencetak generasi siap kerja, untuk tidak menyebutnya dengan kata buruh. Tidakkah itu terasa terlalu mengerdilkan tujuan dari pendidikan. Seolah hanya sebagai komoditas industri dan bisnis belaka? Semoga dengan angin segar yang berhembus, tidak datang badai yang mengerikan. Semilir angin gunung memang terkadang sejuk, tapi tidak jarang mengerikan. Semoga Nadiem Anwar Makarim mampu membawa pendidikan ke arah yang murni sesuai amanat UUD. Selamat bertugas!

14 November 2019

MOVE

Sekitar enam belas tahun yang lalu, kala saya masih duduk dibangku kelas tiga sekolah dasar, menjadi penulis adalah sebuah impian besar. Di usia yang sama, teman sekelas saya umumnya bercita-cita menjadi dokter, tentara, polisi, atau guru. Tapi entah kenapa menulis menjadi sebuah passion bagi saya, sebuah panggilan jiwa. Di usia yang masih kanak itu, bacaan kegemaran saya adalah cerita pendek di rubrik khusus milik Kompas Anak, yang terbit hanya tiap hari Minggu. Praktis, akhir pekan menjadi saat-saat yang selalu saya nantikan, “Ada cerita apa lagi Minggu ini?” begitu seterusnya pertanyaan dalam benak ini. Sampai pada suatu ketika saya memberanikan diri mengirim cerita-cerita pendek ke redaksi Kompas Anak. Tanpa ekspektasi apa pun, pure ala anak kecil. Saya dengan tekun mengetikkan paragraf demi paragraf cerita itu di komputer berlayar tebal dengan windows 98 nya. Ah... haru mengingatnya, itu komputer pertama di keluarga kami, Abah yang beli. Beberapa kali tulisan saya ditolak, tapi sekali lagi, dengan tanpa ekspektasi maka saya tidak kecewa atau sakit hati, saya kirim lagi. Toh, Kompas dengan baik hati selalu mengirim balik naskah tulisan saya sembari membubuhkan satu lembar surat dari redaksi dan menjelaskan alasan penolakan mereka. Alasan-alasan itu menjadikan saya belajar banyak, “Oh... ternyata saya kurang nya di sini..” begitu seterusnya.

Menginjak masa SMP, kegemaran saya tidak berubah. Saya masih istiqomah menulis di komputer windows 98 itu. Saya simpan file-file tulisan dengan rapi, masih tanpa ekspektasi. Menulis adalah sebuah passion, dan bagi saya tulisan itu lahir tanpa harus dibaca siapapun, tanpa perlu diakui bagaimanapun, dan tanpa perlu dipuji apapun. Saya yang menulis, saya yang menikmati. Sehingga kerap kali saya buka-buka sendiri file itu, mengamati ulang tulisan saya, mengoreksi kata demi kata, kalimat demi kalimat yang kurang padu padannya. Kala SMP saya pun sudah mulai upgrade diri, bukan hanya menulis cerita pendek tapi sudah mulai menulis novel. Teenlit istilah gaulnya. Ceritanya tentu saja kebanyakan kisah cinta remaja. Tapi saya juga kerap menulis puisi-puisi, hasil refleksi diri terhadap sekeliling. Sungguh mengasyikkan. Sampai suatu ketika, SMP saya akan menerbitkan majalah sekolah perdana, sehingga dibutuhkan pengurus majalah. Saya pun menjadi salah satunya. Inilah pertama kali tulisan saya dimuat dan dibaca banyak orang (barangkali). Saat majalah sekolah itu terbit, saya pandangi saja tulisan yang saya buat tercetak di atas lembarannya. Beberapa rekan yang membaca majalah itu kemudian segera menggodai saya karena nama “Hamidah” terpampang dengan jelas di sana. Saya bangga. Saya merasakan pertama kali dalam hidup, ini yang namanya pengakuan dan apresiasi. Tapi kemudian saya tahu, itu juga menjadi saat pertama dalam hidup saya untuk tidak pure lagi, saya sudah memiliki ekspektasi dalam menulis. Sesuatu yang bisa menjadi baik, bisa pula menjadi racun.

Memasuki bangku SMA, saya tetap merawat hobi menulis. Untuk pertama kalinya di tahun 2010, saya menerbitkan secara digital tulisan-tulisan saya di sebuah blog, bernama sebatangmimpi.blogspot.com. Blog ini yang kemudian menjadikan saya tidak lagi introvert menyimpan file-file tulisan di dalam komputer. Ini juga seiring saya sudah mempunyai laptop sendiri, kegiatan menulis pun bisa semakin fleksibel dilakukan di mana saja, sesaat setelah ide melintas di benak. Teman-teman SMA saya juga mengetahui kegemaran ini, beberapa dari mereka bahkan dengan senang hati mengunjungi blog saya, membaca tulisan-tulisannya, dan meninggalkan komentar. Sebuah kebahagiaan tersendiri bagi saya, jika mereka menikmati hasil karya sederhana itu. Meski beberapa memuji, namun tak sedikit yang usil lalu menggodai saya dengan memanggil-manggil, “Hei, sebatang mimpi!” atau, “Hei, Hamidah Semi!”. Semi merujuk pada singkatan dari nama blog sebatang mimpi itu. Saya tidak malu, gengsi, atau sangsi, bagi saya apresiasi dapat dilontarkan dalam beragam bentuk. Saya senang teman-teman mengenal saya sebagai “si gadis gemar menulis”. Beberapa teman juga menunjukkan dukungannya dengan mendorong saya untuk menerbitkan tulisan-tulisan di blog menjadi sebuah buku. Saya senang atas dorongan itu, tapi belum saya wujudkan.

Memasuki masa-masa kuliah, saya kehabisan waktu untuk menulis. Saya sibuk mengerjakan tugas, berorganisasi, hingga bekerja paruh waktu di media lokal Kota Malang. Menyesal? Hm... tidak juga. Karena meski hobi saya menulis terbengkalai, dan saya hampir-hampir saja kehilangan gairah dalam menulis, tapi saya tahu dan dapat memastikan, kala itu saya tengah sibuk untuk hal-hal yang tidak kalah baik untuk diri dan masa depan.
Sebatang mimpi masih baik-baik saja hingga akhir tahun 2016-an, kadang terisi tulisan, kadang tidak, seluangnya waktu saja. Hingga saya terkesiap, apabila nama adalah doa, akankah sebatang mimpi hanya akan selamanya menjadi sebatang mimpi, tanpa pernah tumbuh menjadi pohon lalu berubah menjadi taman, berkembang menjadi hutan rindang, bahkan sampai menjadi paru-paru dunia? Padahal harapan saya sebatang mimpi bukan hanya menjadi sebongkah kayu saja, saya berharap dia bertumbuh kembang, memiliki rekan dan kawanan, menebar kebaikan, lewat tulisan.
Lalu sekira tahun 2017-an saya mengubah sebatang mimpi menjadi perspektif hamidah, tempat saya menuangkan berbagai pemikiran, apa pun. Agar sudut pandang itu ikut mengisi dan mewarnai riuh rendah pemikiran di tengah belantara media sosial yang kian ramai pengguna. Seiring berganti nama menjadi perspektifhamidah.blogspot.com, saya pun sedikit banyak mulai menulis pemikiran saya terkait sosial, politik, dan budaya, tidak hanya cerita fiktif.

Kini perspektif hamidah mendapat dukungan dari suami saya, ia membantu saya mengubahnya menjadi sebuah website. Meski berbayar, ia yakin itu akan baik untuk saya mengembangkan hobi ini menjadi sesuatu yang berguna bagi orang banyak. Menulis bagi saya saat ini bukan hanya sebuah hobi dan passion saja, karena saya sadar harus membubuhkan sedikit ekspektasi di dalamnya, tentu dalam takaran yang wajar dan seperlunya. Sebab, mendiamkan tulisan dalam komputer pribadi saya tidak akan bermanfaat apa-apa selain menjadi penghibur diri sendiri kala waktu senggang. Tapi membagikannya pada dunia luas, barangkali dapat menghadirkan manfaat pula bagi orang lain yang membacanya, sedikit atau banyak.

Saya teringat suatu ketika Ignasius Jonan pernah berkata “Misalnya Tuhan memberi kita usia 75 tahun maka: Pada 25 tahun pertama hidup kita lebih banyak menerima. Dan 25 tahun berikutnya, hidup haruslah seimbang menerima dan memberi. Pada 25 tahun ketiga, harus lebih banyak memberi daripada menerima”. Maka bagi saya yang akan segera memasuki tahap 25 tahun kedua hidup ini, saya berupaya dan (masih) berlatih untuk memberi (meski sedikit), setelah 25 tahun pertama telah saya lewati dengan lebih banyak menerima.

Semoga dapat bermanfaat untuk khalayak luas. Terima kasih. 

30 Oktober 2019

Yet it still moves

Kala itu di abad pertengahan, ilmuwan Galileo Galilei mendukung teori Copernicus bahwa matahari adalah pusat tata surya, bukan bumi yang menjadi pusatnya. Pandangan tsb kemudian ditentang bahkan Galileo dituntut untuk mencabut pernyataannya dan mengakui bahwa bumi adl pusat tata surya. Bila tidak, Galileo akan diberikan surat excommunication, atau surat yang menyatakan ia dikeluarkan dari komunitasnya. Atas desakan tsb, secara terpaksa Galileo mencabut pernyataannya dan mengatakan bumi adalah pusat tata surya. Meski begitu, sembari beranjak dari ruangan, ia mengatakan "eppur si mouve" atau "yet it still moves" yang bermakna bahwa "bagaimana pun juga, bumi tetap berputar (mengelili matahari)".
Kata-kata tersebut kemudian menjadi simbol kebenaran atau simbol bahwa kebenaran pasti akan menang. Kemudian, justru setelah Galileo meninggal, terbukti bahwa matahari-lah pusat tata surya. 





(Ini adalah kata-kata favorit Mas Anwar, ia tuliskan pula di tesisnya, bahkan bio instagram­čśů  Penasaran, akupun menanyakan artinya, dan bergegas menuliskan. Kata-kata yang menarik). 

25 Oktober 2019

Syukur

Dunia memang tempat ujian dan beragam masalah. Tiap yang bernyawa seolah punya saja masalahnya masing-masing. 
Yang belum lolos snmptn minder dan tak sabar ingin segera kuliah. Yang sudah kuliah ngeluh tugas tugasnya susah. Yang sudah lulus, capek ngelamar kerja sana sini tak kunjung diterima. Yang sudah kerja lelah diomeli bos atau difitnah temen sekantor, lalu ingin resign saja atau nikah. Tapi ingin nikah belum datang-datang jodohnya. Meratap merasa tak laku. 
Sedangkan yang sudah datang sinyal jodoh berkali-kali, belum juga sreg karena kurang kriteria ini dan itu. 
Yang sudah nikah ternyata juga tak sepi dari keluhan, sebab berbagai penyesuaian suami istri harus dilakukan, salah satunya melepas pekerjaan. Jadilah ibu rumah tangga, lalu mengeluh tak punya temen dan komunitas. Apalagi anak sudah lahir capeknya level dewa, merasa tak berguna kuliah tinggi-tinggi hanya berakhir di depan popok berisi eek bayi. Padahal yang belum punya anak, ikhtiarnya luar biasa keras, sujudnya berurai air mata tiap malam, memohon buah hati pernikahan. 
Anak beranjak dewasa mulai sekolah di kota-kota jauh bahkan negeri asing. Ditinggallah orang tua di kampung halaman. Meratapi nasib yang merasa seolah sendirian. Mana bakti anak yang sudah susah payah dibesarkan. Orang tua sakit bukan ditemani dan dirawat malah tidak pulang-pulang. Nun jauh di sana ia malah memusingkan nasib-nasib orang, memikirkan hak-hak rakyat dan entah siapa dalam diktat dan buku-buku teori kuliahnya yang tebal. Orang tua pun mati dalam kesengsaraan dan kehidupan yang tak pernah tersentuh syukur. Dan sejarah berulang. Di rantau sana, anak-anaknya mengeluhkan sulitnya kuliah dan ingin segera menikah saja. Lalu menikah dan merasa kuliah tinggi-tinggi tiada berguna karena hanya berakhir di depan popok berisi kotoran. 


Betapa..... Hidup tiada gunanya jika hanya dipenuhi ratapan-ratapan. Naudzubillahi min dzalik.... Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang penuh syukur dan qonaah. Di dunia adalah tempat kita sementara, tugas kita beribadah sebanyak-banyaknya dan mencari nafkah semestinya. Selanjutnya kita akan kembali ke akhirat selamanya, semoga surga tempat kita. Amin. 
Hidup penuh syukur, meninggal khusnul khotimah. 

23 Oktober 2019

Triumvirate

Nama-nama Menteri di kabinet Jokowi-Ma'ruf Amin telah diumumkan, setelah beberapa hari ini kita disuguhkan pemandangan tokoh-tokoh negara yang silih berganti memasuki istana memenuhi panggilan presiden, tentunya dengan kostum yang sama, atasan putih! 
Yang menarik perhatian tentu saja nama Prabowo Subianto. Dua kali menjadi rival Jokowi dalam memperebutkan kursi RI 1, kini ia justru berlabuh pada posisi Menteri Pertahanan 2019-2024.

Politik memang secair itu, jadi tidak usah heran jika yang di akar rumput masih kebakaran jenggot dengan nol satu dan nol duanya, sedangkan yang di atas sudah konsolidasi.

Menteri Pertahanan sendiri bukanlah posisi yang main-main. Bersama dengan Menteri Luar Negeri dan Menteri Dalam Negeri, ketiganya kerap disebut triumvirate, yakni yang bertugas menjalankan pemerintahan dalam kondisi darurat. Lalu mengapa Jokowi mempercayakan posisi vital tersebut pada Prabowo? Entahlah.

Namun dari ketiga menteri ini, sebagian orang berpendapat bahwa Menteri Luar Negeri lah yang paling bergengsi, sebab merupakan jabatan paling penting nomor tiga, setelah Presiden dan Wakil Presiden.

Apapun itu, selamat bertugas untuk para menteri yang terpilih. Selamat meramu Indonesia menjadi negara maju, damai, dan berkeadilan!

Adil

Dunia ini memang tidak pernah adil, tapi Allah Maha Adil. Maka terserah kita, memakai kacamata dunia ataukah memakai kacamata agama. 
Anak direktur jelas tidaklah sama dengan anak tukang sol sepatu. Dunia melabeli yang satu dengan sebutan kaum kaya dan satunya dengan sebutan kaum papa. Hanya iman yang membedakan kita dihadapan Allah SWT, bukan harta, tahta, bahkan keluarga, bukan. 

18 Oktober 2019

Lupakan ini dan itu, sekaligus ani dan inu

Kita terbiasa mengambil keputusan karena kata si ini dan kata si itu, atau karena melihat si ani dan si inu.
Sebenarnya siapa sih ani dan inu? Orang lain? Bukan keluarga? Bukan inner circle?
Ini yang bahaya.
Kita memilih sebuah jurusan kuliah karena si ani terlihat keren di jurusan tersebut, makanya kita ngikut.
Kita ambil kerjaan beken di kota jauh, karena si inu terlihat oke di instagram dengan seragam kantornya.
Atau lebih lanjut kita buru-buru nikah karena si ini terlihat cantik dalam balutan baju akad.
Bahkan parahnya, kita terburu-buru pengen punya anak hanya karena melihat si itu yang nikah tidak lebih dulu dari kita sudah menimang momongan.

Padahal kita sejatinya belum siap. Belum siap kuliah di jurusan tsb, belum siap kerja di tempat tsb, belum siap menikah, belum siap sepenuhnya jadi orangtua yang baik. Kapan siapnya? Allah yang tau. Kita yang tau. Orang lain tidak. Jadi jangan dijadikan ukuran.

Kita punya ukuran masing-masing. Takaran kita beda-beda. Kalau sekali makan bisanya cuma sepiring ya jangan masak nasi banyak-banyak. Gak ke makan nanti. Bisa jadi muntah kalau maksa ditelan. Atau lebih-lebih nasinya basi kalau dibiarkan.

Santai saja. Allah Maha Tau yang terbaik. Kita tugasnya ikhtiar - berdoa - dan tawakkal. Bukan ikhtiar - lamat-lamat mengintip media sosial - mengutuki nasib kehidupan - lupa berdoa - dan sengaja memilih untuk tidak tawakkal.

19 Agustus 2019

Merawat Basa-Basi ala Orang Jawa


Lahir dan besar di Jawa, menjadikan saya akrab dengan segala bahasa, lelucon, hingga tingkah pola ala Jawa, termasuk juga sederet kalimat basa-basinya yang beragam. Ya, wajar saja karena orang Jawa lekat dengan label pekewuh alias ndak enakan. Terlalu jeru memikirkan perasaan orang lain, dan takut membuat orang lain tersinggung, menjadikan mayoritas orang Jawa lebih memilih untuk ngomong di belakang dari pada blak-blakan, lebih memilih menghaluskan kata atau eufimisme dari pada jujur apa adanya. Ya itu bukan kekurangan atau bukan kelebihan, itu bagian dari budaya, semua suku punya budaya dan cirinya masing-masing, sekali lagi hal yang wajar.

Beberapa di antara basa-basi orang Jawa berupa sapaan untuk orang lain adalah kalimat seperti “ajenge teng pundi”, yang artinya menanyakan hendak ke mana orang yang disapa tersebut pergi. Tentu saja karena hanya berbentuk kalimat sapaan basa-basi, si penanya pun tak membutuhkan jawaban yang sungguh-sungguh, sehingga yang ditanya juga kerap kali menjawab ala kadarnya seperti “niki ajenge teng ngajeng”, maknanya menunjukkan bahwa pihak yang ditanya akan pergi ke depan (ngajeng), misalnya di depan ada pasar, ada toko, atau ada apapun, tanpa menjelaskan ke mana tujuan spesifiknya.
Selain menanyakan hendak ke mana, basa-basi Jawa yang lebih basa-basi lagi adalah menawarkan kepada orang yang ditemui di depan rumah untuk mempir sebentar. Biasanya, saat sedang menyapu di depan rumah, saat baru masuk rumah, memberi makan ayam, atau main PUBG di teras hehehe becanda, si pemilik rumah yang bertemu orang lain akan menyapa dengan kata“monggo pinarak”, yang artinya “silahkan mampir”. Sekali lagi jangan dianggap terlalu serius, ini hanya basa-basi. Bukan berarti pemilik rumah benar-benar ingin menawari Anda masuk rumahnya, dan jika Anda menolak maka dia akan kecewa, tidak, tidak serumit itu. Mempersilahkan orang mampir ke rumah lebih kepada menunjukkan sikap sopan, dan menunjukkan bahwa rumahnya terbuka untuk Anda, Anda dan dia dalam hubungan yang baik-baik, saling menghormati, dan sopan.

Beranjak dari basa-basi kejawen, orang-orang masa kini juga masih merawat budaya basa basi. Tapi saya rasa ada yang berbeda, entah sedikit atau justru banyak, orang-orang jaman now lebih ke arah julid dari pada basa-basi yang sopan. Misalnya, setelah sekian lama tidak bertemu dengan teman semasa SD, orang tidak lagi memilih kata “apa kabar?” tapi justru “kapan nikah?”. Pasti generasi 90-an yang sekarang jadi paling anti dengan pertanyaan ini haha. Kapan nikah menjadi pertanyaan basa-basi yang mulai menggantikan posisi apa kabar, lalu bagaimana dengan basa basi dengan kata “gendutan ya” “kurusan ya” “kok sekarang jerawatan”, di mana letak posisinya, menggantikan posisi siapa dia. Sepertinya basa-basi sudah semakin bergeser menjadi kepo bahkan lebih-lebih nyinyir.
Sudah semestinya kita kembali lagi ke akar dari basa-basi, yakni ya sekedar basa-basi, tanpa perlu julid.

26 Juli 2019

Sakinah Mawaddah wa Rahmah

Setiap kita datang ke pernikahan, menghadiri sebuah undangan perkawinan, selalu terucap doa yang tiada pernah tertinggal, yakni "Sakinah, Mawaddah, wa Rahmah". Apa sesungguhnya makna sakinah mawaddah wa rahmah?
Tampaknya kita harus paham betul dan memaknainya hingga mendalam supaya tak sambil lalu hanya kita ucapkan dan kita amin amin kan saja dari satu perhelatan pernikahan ke pernikahan lainnya.

Sakinah mawaddah wa rahmah dimulai sejak dari sebelum akad diucap. Kala dimulai khitbah, lamaran, dan serangkaian kegiatan menuju sebuah pernikahan.
Terwujud dalam upaya menjaga diri dari fitnah atas hubungan yang belum sah, menjaga kesucian diri, kehormatan diri, dan menjaga sikap.
Hingga akad diucap dan sah menjadi suami istri, sakinah mawaddah wa rahmah terwujud dalam upaya menjaga, karena suami istri bagaikan pakaian untuk satu sama lain.

Di era digital dan media sosial saat ini, sakinah mawaddah wa rahmah salah satunya diwujudkan dalam menahan diri mempublikasikan foto2 atau cerita tentang internal rumah tangga yang "bersifat rahasia". Makna rahasia di sini bukan hanya menjaga aib atau keburukan pasangan saja, bahkan dalam menyebarkan hal baik dan bahagia pun ada adabnya. Jangan sampai foto malam pertama justru diumbar-umbar atau tidak bisa menahan diri dalam menceritakan pengalaman malam pertama, baik secara lisan, tulisan, foto, story, dll. Jika ditanya apakah ada yang begitu, tentu saja ada (semoga kita bukan bagian dari yang melakukannya). Tak sekali dua kali saya dibuat risih dengan postingan entah siapa saya tidak kenal karena mendapatinya di bagian Search, yang mengumbar kemesraan suami istri, berdalih itu adalah kemesraan halal. Bhaique. Dengan caption-caption seperti "Sisa tadi malam" (anda tau sendiri maksudnya). Atau tidak sekali dua kali saya dengar kisah dari rekan yang risih teman sekantornya yang pengantin baru mengumbar kisahnya semalam dengan mengatakan "aduh... Keramas sampe capek" (anda tau sendiri maksudnya). Baiklah... Anggap kita sudah cukup dewasa untuk membicarakan hal ini. Pernikahan bukan cuma tentang itu, more than just that, there is a lot of thing. Jadi jika kita memang cukup berpendidikan ditandai dengan pernah sekolah, maka mari bersikap sebagaimana orang terdidik.

Marwah rumah tangga adalah hal yang harus dijaga. Mengumbarnya ke khalayak umum, bukan menjadi hal yang patut dibanggakan dan disanjung-sanjung. Tampaknya budaya kita dewasa ini semakin jauh melenceng. Pengantin baru yang sedikit berkisah mesra di media sosial dianggap tidak romantis dan tidak harmonis, sedangkan yang banyak mengumbar umbar kemesraan berlebihan justru dipuja puji.

Pernikahan adalah hal yang sangat istimewa dan sakral, di sisi lain itu juga hal yang biasa dan begitu-begitu saja, semua orang tanpa memandang status sosial, harta, dan tahta juga punya kesempatan yang sama untuk dapat
menikah, sama saja. Maka yang menjadi tantangan adalah bagaimana keterampilan dan kemampuan kita mengolah atau meramu sesuatu yang istimewa sekaligus juga merupakan hal yang biasa. Yakni dengan cara menjalankan seluruh proses pernikahan dengan penuh hati-hati dan sakral, agar keistimewaan itu tetap terasa dan tak hambar, sekaligus kita menyebarluaskan beritanya dengan tetap tenang dan santun, tidak menggebu berlebihan seolah di dunia ini hanyalah kita seorang yang mengalami hal tsb.

Tulisan ini benar-benar sebagai refleksi diri saya sendiri, barangkali pernah jari, mulut, atau diri ini  berlaku demikian dan membuat orang lain tak nyaman. Tak ada secuil upaya dan usaha untuk menyindir siapapun, saya bukan ahli sindir menyindir, wong Malang bilang "lek gak seneng ngomong ae". Hmm. Tulisan ini benar-benar untuk refleksi sekaligus keprihatinan atas ketidaktahuan saya akan makna luas dari sakinah mawadah warahmah tersebut. Smg Allah memaafkan segala kesalahan saya dalam hal ini.

16 April 2019

Membanggakan Orang Tua atau Dibanggakan Orang Tua?


Di tengah era ketatnya persaingan eksistensi diri, baik di dunia nyata maupun dunia maya, publik kerap kali gusar. Di mulai dari orang tua yang mengambil keputusan dalam menyekolahkan anaknya sedari SD saja, pertimbangan terkait eksistensi dan pride tidak bisa dipisahkan. Memilih menyekolahkan anak di SD X bukan hanya karena alasan kualitas pendidikannya yang baik, namun juga karena lingkar pergaulannya yang merupakan kelas menengah atas. Bahkan faktor agama kerap kali di abaikan. Misal, anak orang beragama Islam memaksakan diri masuk ke sekolah non Islam hanya karena alasan sekolah tersebut lebih terkenal atau keren, meskipun jelas tanpa mendapat bimbingan dan pendidikan agama yang sesuai.
Didikan dari orang tua sedari kecil inilah yang kemudian akan melahirkan anak-anak yang bimbang antara dua pilihan kala beranjak dewasa, yakni “Membanggakan Orang Tua atau Dibanggakan Orang Tua?”.

Dan sebagaimana kita tahu, fenomena saat ini condong menunjukkan publik yang lebih memilih “Membanggakan orang tua”. Misal, anak kuliahan yang memakai mobil mewah ke kampus dengan sejuta gaya, padahal itu pemberian orang tua, bukan hasil usaha sendiri. Misal, berlaku sewenang-wenang ketika melanggar lalu lintas dan berlindung di balik nama besar orang tuanya yang barang kali pejabat daerah setempat. Bahkan....., hingga....., nyaleg (mencalonkan diri sebagai anggota legislatif) di suatu daerah dengan memberikan keterangan diri sebagai “Putra dari Mantan Menpora RI”. Then? Why? Kalau dalam istilah jogja, “Njuk?”. Apakah itu identitas diri yang patut dituliskan di baliho-baliho alat peraga kampanye seorang caleg? Siapa dia, silahkan Anda cari sendiri. Yang jelas ada hehe.

Kultur kita yang terbiasa untuk “membanggakan orang tua” kemudian menjadikan orang yang bukan anak siapa-siapa seolah tidak memiliki panggung untuk berkesempatan menunjukkan eksistensi diri.

Sebuah konsep menarik pernah disampaikan suami saya, bahwa orang tua lah yang seharusnya bangga dengan kita, bangga memiliki anak seperti kita, sehingga kita harus berikan yang terbaik, bukan kita yang membanggakan apa yang telah dibuat oleh orang tua kita. Yang patut membanggakan hasil jerih payah orang tua kita adalah kakek nenek kita. Jalan kita masih panjang. Masih banyak tenaga tersimpan. Jangan manja dengan membawa nama-nama yang lebih dulu ada di depan kita. Kita buat nama kita besar dengan cara kita sendiri. Biarkan orang mengenal siapa diri kita dari prestasi kita sendiri, bukan dari orang tua atau bahkan orang lain.

5 April 2019

Pelukan Si Kampung Halaman yang Dingin


Pulang ke kampung halaman adalah hal yang menyenangkan, sebab di sanalah tempat tangis kita pertama kali pecah, di sana tempat kita pertama kali jatuh dari belajar sepeda roda dua, dan di sana pula tempat kita pertama kali mengerti betapa bermaknanya arti sebuah keluarga.

Kemudian pulang kampung menjadi sebuah ritual yang dinanti-nantikan setiap jiwa yang merantau. Bisa jadi ritual tersebut dilakoni hanya setahun sekali kala lebaran atau hari besar agama lain. Bisa juga ritual tersebut dilakukan dua kali, kala lebaran dan akhir tahun. Macam-macam. Aku sendiri yang merantau 246 kilometer jauhnya dari rumah, merasakan pulang kampung adalah momen luar biasa menyenangkan yang hanya bisa dirasakan 2 hingga 3 kali dalam setahun, sebab libur anak kuliahan tidak banyak, hanya tiap akhir semester saja.

Tapi pulang kampungku kali ini membawa rasa berbeda, selain menjadi momen bahagia, ada pula momen menyedihkannya. Aku baru menyadari bahwa diriku mulai berubah. Benar-benar baru menyadari. Kampung halamanku, Malang, Jawa Timur, memang daerah yang terletak di dataran tinggi, sehingga hawa dingin adalah sahabat kami. Bagiku, suhu belasan derajat dan mandi dingin menjelang subuh bukanlah mustahil, sangat kuat tubuh ini menahan gigil. Namun, baru dua tahun aku menetap di Jogja, tubuhku ternyata sudah berubah. Aku pulang kampung dan merasakan dingin sekujur tubuh, dengan ujung jari tangan dan kaki yang sedikit beku tak nyaman.

Wahai kampung halaman, darah yang mengalir di nadiku seharusnya masih darah Malang, namun ternyata Jogja sudah cukup mengurat di tubuhku. Baiklah, aku terima dengan suka cita segala perubahan itu. Aku siap dengan segala perubahan-perubahan lainnya, dan kota-kota lain yang harus kutaklukkan. Kini, aku mungkin telah melebur dalam Jogja, namun aku tidak akan pernah mau tenggelam, tanpa membawa Malang.

30 Januari 2019

ICW: #koruptorkoknyaleg


Malam ini Komisi Pemilihan Umum (KPU) akan merilis 40-an nama calon anggota legislatif yang merupakan mantan narapidana khususnya kasus korupsi. Berbagai pro dan kontra sebelumnya terus mencuat ke permukaan, terkait langkah KPU mempublikasikan nama-nama mantan koruptor ini. Di sisi kontra, ada yang menyebut bahwa semua orang memiliki kesempatan yang sama, tidak boleh ada diskriminasi terhadap masa lalu seseorang. Bahkan Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah, secara terang-terangan menyebut KPU hanya pencitraan dan hanya ikut-ikutan urusan dari lembaga lain yakni KPK.
Namun di sisi pro, menyatakan bahwa informasi terkait rekam jejak calon legislatif penting dijelaskan secara terbuka, sehingga publik dapat memiliki pertimbangan dalam memilih calon dan wakil rakyatnya nanti. Bahkan Indonesia Corruption Watch (ICW) sudah jauh-jauh hari merilis daftar nama 46 mantan narapidana kasus korupsi melalui akun resminya di twitter, sebagaimana berikut:



Upaya publikasi latar belakang caleg khususnya eks koruptor ini sangat penting, terlepas dari apapun motif yang dimiliki KPU entah pencitraan sebagaimana menurut Fahri Hamzah, atau cari muka, dan lain-lain. Bahkan saya pikir bukan hanya eks koruptor saja, namun tindak pidana lain yang pernah dilakukan juga seharusnya dipublikasikan, misal: penipuan, pencemaran nama baik, dan seterusnya.
Saya pribadi jelas mendukung langkah KPU, dan saya jelas tidak akan memilih dan memberi kesempatan kedua pada orang yang pernah mengingkari janjinya sendiri dan menciderai hukum. Dari pada sibuk membicarakan keadilan di hadapan hukum dan kesempatan yang sama terhadap caleg eks koruptor, kenapa kita tidak membicarakan keadilan untuk rakyat saja? Bukankah rakyat butuh pemimpin dan wakil rakyat yang amanah. Sebelum berbicara mengenai keadilan untuk caleg eks koruptor, apakah mereka sendiri sudah adil terhadap rakyatnya dengan melakukan tindak korupsi tersebut? Mari kita berikan perhatian dan fokus ini hanya untuk kesejahteraan publik bukan untuk mengulang kesalahan yang sama dan menyejahterakan para eks koruptor.

Sebagai refleksi, coba kita tanyakan pada diri kita sendiri, maukah kita apabila Setya Novanto nyaleg lagi pada pemilu tahun ini? Masihkah kita mempercayai orang yang pernah melakukan korupsi E-KTP tersebut? Saya yakin semua dari kita akan kompak bersorak dengan lantang mengatakan: TIDAK. Lantas... untuk apa kita masih memberi toleransi pada eks eks koruptor yang lain? Apa hanya karena kasus korupsinya tidak seheboh dan sebesar Setya Novanto dengan segala drama dan gimmick nya? Come on... siapapun dan berapapun itu tetaplah korupsi, jangan beri kesempatan lagi. #koruptorkoknyaleg


3 Januari 2019

Nirwana Happy dan Gegar Budaya 6 Tahunan


Nama ini sih bagus ya, ada kandungan surgawi nya begitu. Nama lengkap gadis berusia hampir seperempat abad ini aslinya memang Nirwana Happy... kira-kira jika diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dipahami adalah: Kebahagiaan Surga, atau mungkin Perempuan yang akan berbahagia di surganya Allah. Amin.. mungkin begitu kira-kira.

Tapi kali ini yang menarik perhatian ku bukan lagi namanya, sebab aku mengenalnya sudah terlampau lama. Ya..., kira-kira enam tahun lalu, pertama kali di bangku S1 Universitas Brawijaya. Dan itu artinya, sudah enam tahun pula Hepay (panggilan sayangku padanya haha) menginjakkan kaki di tanah Jawa, khususnya Kota Malang. Tapi rupanya, lebih dari setengah dekade merantau tak lantas menjadikan Hepay sepenuhnya paham dengan budaya di Malang. Ya, kita mengenalnya dengan gegar budaya atau culture shock, istilah psikologis ketika seseorang berada dalam kondisi lingkungan sosial budaya yang berbeda. 
Buktinya, meskipun sudah enam tahun tinggal di Malang, Hepay masih dengan muka heran mengerutkan dahinya memandangi handphone, lalu bertanya padaku

“Kok bisa ya orang ini berpendidikan lho.. kok misuh (berkata kotor) gini ya?”.

“Apa sih, Pay?” tanyaku yang jadi ingin tahu.

“Ini lho Mid, masa orang ini bilang ‘jan.. kok’, nah ‘jan’ itu kan artinya ngomong kotor”

Rupa-rupanya ‘jan’ dalam benak Hepay memiliki arti yang sama dengan (maaf) jancok, yang memang adalah kata kasar dalam bahasa Jawa.

“Aduh Pay.. bukan.. ‘jan’ itu bukan itu artinya” aku sontak tertawa, diiringi Hepay yang masih bingung penuh rasa ingin tahu.

Makna ‘jan’ dalam bahasa Jawa jelas berbeda dengan kata-kata kotor khas Jawa Timur atau bahkan khas Malangan Suroboyoan itu. Karena ‘jan’ di sini bahkan nyaris tidak memiliki makna karena sulit diartikan, itu hanya sekedar penekanan dan ungkapan, bahwa orang yang tengah mengatakan hal tersebut sedang geram, gemas, atau yang sejenisnya. Maka ketika ada orang Jawa Timuran berkata “Arek iki ancene jan....” itu bukan berarti orang tersebut hendak mengumpati rekannya, tapi itu senada dengan kata “Anak ini emang ya.... huh” sambil dengan nada gemas atau geram.
Mendengar penjelasanku tersebut Hepay manggut-manggut dan segera mengakhiri prasangka nya pada orang yang dikira sedang berkata kotor dengan kata-kata ‘jan’ hahaha. 

Budaya memang lahir dari peradaban panjang masyarakat di masa lampau dan terus tumbuh, sehingga untuk mempelajari dan memahaminya tentu membutuhkan waktu yang tidak singkat. Selamat bergegar-gegar ria kawan di mana pun kita berada. Selama kita masih merasakan gegar budaya, artinya kita masih terus bergerak, terus menjelajah dari satu kota ke kota lainnya, dan dari satu negeri ke negeri seberangnya, maka selamat menemukan keberagaman!


Yk, 3 Januari 2018