30 Oktober 2019

Yet it still moves

Kala itu di abad pertengahan, ilmuwan Galileo Galilei mendukung teori Copernicus bahwa matahari adalah pusat tata surya, bukan bumi yang menjadi pusatnya. Pandangan tsb kemudian ditentang bahkan Galileo dituntut untuk mencabut pernyataannya dan mengakui bahwa bumi adl pusat tata surya. Bila tidak, Galileo akan diberikan surat excommunication, atau surat yang menyatakan ia dikeluarkan dari komunitasnya. Atas desakan tsb, secara terpaksa Galileo mencabut pernyataannya dan mengatakan bumi adalah pusat tata surya. Meski begitu, sembari beranjak dari ruangan, ia mengatakan "eppur si mouve" atau "yet it still moves" yang bermakna bahwa "bagaimana pun juga, bumi tetap berputar (mengelili matahari)".
Kata-kata tersebut kemudian menjadi simbol kebenaran atau simbol bahwa kebenaran pasti akan menang. Kemudian, justru setelah Galileo meninggal, terbukti bahwa matahari-lah pusat tata surya. 





(Ini adalah kata-kata favorit Mas Anwar, ia tuliskan pula di tesisnya, bahkan bio instagram­čśů  Penasaran, akupun menanyakan artinya, dan bergegas menuliskan. Kata-kata yang menarik). 

25 Oktober 2019

Syukur

Dunia memang tempat ujian dan beragam masalah. Tiap yang bernyawa seolah punya saja masalahnya masing-masing. 
Yang belum lolos snmptn minder dan tak sabar ingin segera kuliah. Yang sudah kuliah ngeluh tugas tugasnya susah. Yang sudah lulus, capek ngelamar kerja sana sini tak kunjung diterima. Yang sudah kerja lelah diomeli bos atau difitnah temen sekantor, lalu ingin resign saja atau nikah. Tapi ingin nikah belum datang-datang jodohnya. Meratap merasa tak laku. 
Sedangkan yang sudah datang sinyal jodoh berkali-kali, belum juga sreg karena kurang kriteria ini dan itu. 
Yang sudah nikah ternyata juga tak sepi dari keluhan, sebab berbagai penyesuaian suami istri harus dilakukan, salah satunya melepas pekerjaan. Jadilah ibu rumah tangga, lalu mengeluh tak punya temen dan komunitas. Apalagi anak sudah lahir capeknya level dewa, merasa tak berguna kuliah tinggi-tinggi hanya berakhir di depan popok berisi eek bayi. Padahal yang belum punya anak, ikhtiarnya luar biasa keras, sujudnya berurai air mata tiap malam, memohon buah hati pernikahan. 
Anak beranjak dewasa mulai sekolah di kota-kota jauh bahkan negeri asing. Ditinggallah orang tua di kampung halaman. Meratapi nasib yang merasa seolah sendirian. Mana bakti anak yang sudah susah payah dibesarkan. Orang tua sakit bukan ditemani dan dirawat malah tidak pulang-pulang. Nun jauh di sana ia malah memusingkan nasib-nasib orang, memikirkan hak-hak rakyat dan entah siapa dalam diktat dan buku-buku teori kuliahnya yang tebal. Orang tua pun mati dalam kesengsaraan dan kehidupan yang tak pernah tersentuh syukur. Dan sejarah berulang. Di rantau sana, anak-anaknya mengeluhkan sulitnya kuliah dan ingin segera menikah saja. Lalu menikah dan merasa kuliah tinggi-tinggi tiada berguna karena hanya berakhir di depan popok berisi kotoran. 


Betapa..... Hidup tiada gunanya jika hanya dipenuhi ratapan-ratapan. Naudzubillahi min dzalik.... Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang penuh syukur dan qonaah. Di dunia adalah tempat kita sementara, tugas kita beribadah sebanyak-banyaknya dan mencari nafkah semestinya. Selanjutnya kita akan kembali ke akhirat selamanya, semoga surga tempat kita. Amin. 
Hidup penuh syukur, meninggal khusnul khotimah. 

23 Oktober 2019

Triumvirate

Nama-nama Menteri di kabinet Jokowi-Ma'ruf Amin telah diumumkan, setelah beberapa hari ini kita disuguhkan pemandangan tokoh-tokoh negara yang silih berganti memasuki istana memenuhi panggilan presiden, tentunya dengan kostum yang sama, atasan putih! 
Yang menarik perhatian tentu saja nama Prabowo Subianto. Dua kali menjadi rival Jokowi dalam memperebutkan kursi RI 1, kini ia justru berlabuh pada posisi Menteri Pertahanan 2019-2024.

Politik memang secair itu, jadi tidak usah heran jika yang di akar rumput masih kebakaran jenggot dengan nol satu dan nol duanya, sedangkan yang di atas sudah konsolidasi.

Menteri Pertahanan sendiri bukanlah posisi yang main-main. Bersama dengan Menteri Luar Negeri dan Menteri Dalam Negeri, ketiganya kerap disebut triumvirate, yakni yang bertugas menjalankan pemerintahan dalam kondisi darurat. Lalu mengapa Jokowi mempercayakan posisi vital tersebut pada Prabowo? Entahlah.

Namun dari ketiga menteri ini, sebagian orang berpendapat bahwa Menteri Luar Negeri lah yang paling bergengsi, sebab merupakan jabatan paling penting nomor tiga, setelah Presiden dan Wakil Presiden.

Apapun itu, selamat bertugas untuk para menteri yang terpilih. Selamat meramu Indonesia menjadi negara maju, damai, dan berkeadilan!

Adil

Dunia ini memang tidak pernah adil, tapi Allah Maha Adil. Maka terserah kita, memakai kacamata dunia ataukah memakai kacamata agama. 
Anak direktur jelas tidaklah sama dengan anak tukang sol sepatu. Dunia melabeli yang satu dengan sebutan kaum kaya dan satunya dengan sebutan kaum papa. Hanya iman yang membedakan kita dihadapan Allah SWT, bukan harta, tahta, bahkan keluarga, bukan. 

18 Oktober 2019

Lupakan ini dan itu, sekaligus ani dan inu

Kita terbiasa mengambil keputusan karena kata si ini dan kata si itu, atau karena melihat si ani dan si inu.
Sebenarnya siapa sih ani dan inu? Orang lain? Bukan keluarga? Bukan inner circle?
Ini yang bahaya.
Kita memilih sebuah jurusan kuliah karena si ani terlihat keren di jurusan tersebut, makanya kita ngikut.
Kita ambil kerjaan beken di kota jauh, karena si inu terlihat oke di instagram dengan seragam kantornya.
Atau lebih lanjut kita buru-buru nikah karena si ini terlihat cantik dalam balutan baju akad.
Bahkan parahnya, kita terburu-buru pengen punya anak hanya karena melihat si itu yang nikah tidak lebih dulu dari kita sudah menimang momongan.

Padahal kita sejatinya belum siap. Belum siap kuliah di jurusan tsb, belum siap kerja di tempat tsb, belum siap menikah, belum siap sepenuhnya jadi orangtua yang baik. Kapan siapnya? Allah yang tau. Kita yang tau. Orang lain tidak. Jadi jangan dijadikan ukuran.

Kita punya ukuran masing-masing. Takaran kita beda-beda. Kalau sekali makan bisanya cuma sepiring ya jangan masak nasi banyak-banyak. Gak ke makan nanti. Bisa jadi muntah kalau maksa ditelan. Atau lebih-lebih nasinya basi kalau dibiarkan.

Santai saja. Allah Maha Tau yang terbaik. Kita tugasnya ikhtiar - berdoa - dan tawakkal. Bukan ikhtiar - lamat-lamat mengintip media sosial - mengutuki nasib kehidupan - lupa berdoa - dan sengaja memilih untuk tidak tawakkal.